Tuesday, 4 December 2012

[EnjoyJakarta] Ancol: Outbond Tepi Pantai

Akhir tahun 2009, selepas wisuda sarjana, saya hijrah ke Ibu Kota Jakarta untuk bekerja di sebuah perusahaan agribisnis. Peluang bekerja di Jakarta memang lebih terbuka lebar dibandingkan kota-kota lainnya di Indonesia. Kantor tempat saya kerja berlokasi di Jakarta Utara tepatnya di kompleks industri Ancol yang bertepi di Laut Jawa dan berderet dalam satu garis Pantai Ancol. Sebelum mengenal kawasan industri ini, yang saya tahu tentang Ancol adalah daerah tempat nongkrongnya Si Manis Jembatan Ancol (film favorit saya waktu kecil) dan wisata Taman Impian Jaya Ancol dimana ada Dufan, Pantai Ancol, Sea World, Atlantis, resort, restauran dll. Kawasan wisata ini merupakan salah satu dari sekian banyak lokasi wisata di utara Jakarta.

Dari Ancol pula kita bisa menyebrang menuju Pulau Seribu menggunakan speed boat dengan waktu tempuh paling cepat 30 menit. Pantai Ancol dan konco-konconya itu menjadi tempat favorit keluarga sedari saya masih di bangku SD. Wahana-wahana di sana benar-benar mengasyikkan penuh memori masa kecil. Ancol dan khususnya Dufan ini kebanggaan warga Jakarta dan menjadi favorit masyarakat luar Jakarta, termasuk saya. Apalagi Dufan sering memberikan diskon hingga 50% di akhir tahun. Bahkan ibu saya yang profesinya sebagai guru SD kerap kali berwisata ke Ancol bersama murid-muridnya di akhir tahun pendidikan, yakni kenaikan kelas atau merayakan kelulusan SD. Dari Bandung ke Ancol cukup dekat sekitar 2-3 jam melalui Tol Cipularang. Dulu ketika saya kecil, Tol Cipularang belum dibangun jadi bisa menghabiskan waktu perjalanan 5-6 jam melalui jalur Puncak, Bogor. Cukup melelahkan. Beruntung jarak tempuh Bandung-Jakarta sekarang bisa diperpendek. Untuk sampai ke Ancol, warga ibu kota umunya menggunakan moda Transjakarta yang berhenti langsung di gerbang Ancol. Nah, kalau yang luar Jakarta biasanya mereka datang rombongan dengan menyewa kendaraan seperti bis.

Outbond Pantai Carnaval
Baru beberapa minggu masuk kerja, kantor mengadakan outbond di akhir tahun di Pantai Carnaval, salah satu pantai di Ancol, sebagai penutup rangkaian kegiatan training kantor. Karena pada waktu itu weekday, Pantai Carnaval ini relatif sepi dibanding Pantai Festival atau spot wisata lainnya di Ancol mungkin karena lokasinya yang paling pojok dan jauh dari gerbang utama, seperti pada peta ini:
Lokasi Outbond di Pantai Carnaval, Ancol
(www.ancol.com/maps, dengan perubahan)


Dari kantor kami berangkat siang hari setelah makan siang. Menuju lokasi menghabiskan sekitar 15 menit. Selama perjalanan yang kurang lebih 5 kilometer itu, sepertiga perjalanan masih area industri Ancol dan dua pertiganya lagi sudah masuk kawasan wisata. Kami masuk melalui gerbang yang di Jalan Marina karena paling dekat dengan kantor, gerbang utama Ancol berada di ruas jalan raya Lodan. Setelah masuk gerbang, suasana wisata pantai langsung terasa dengan kanan-kiri jalan terdapat kolam yang dipenuhi perahu angsa dan speed boat. Konsep yang ada di Taman Ancol ini adalah kota wisata dengan segala jenis wisata saya kira cukup tersedia di sini. All in one. Hampir seluruh gerbang setiap wisata Ancol kami lalui karena kami mengambil rute berangkat dan pulang yang berbeda walaupun menggunakan pintu gerbang yang sama di Jalan Puri Marina. Yang membuat saya takjub adalah keberadaan makam Belanda yang bernama Ereveld. Makam ini tertata sangat rapih, tidak pernah sebelumnya saya melihat pemakaman serapih itu sehingga tidak ada kesan mengerikan atau angker. Selain makam orang Belanda, ada juga pejuang Indonesia yang dimakamkan di sana. Cat putih makam terlihat masih awet dan tidak ada pudar. Bersih dan terawat. Pada pemakaman itu, terhampar sejenis rumput teki dan setiap pusara dengan pusara lainnya memiliki jarak tertentu baik dari kanan ke kiri maupun depan ke belakang. Sangat teratur. Seragam.

Ciri khas dari wisata Ancol ini adalah alas pelataran yang menggunakan paving block dengan dominasi warna merah-orange. Di sepanjang pinggir pantai dibuat tanggul dengan menggunakan batu-batu kali besar sebagai penahan air dari laut. Antara bantaran tersebut dan area daratan yang merupakan track pejalan kaki dibatasi oleh tembok setinggi betis orang dewasa. Tembok ini selain sebagai pembatas juga sebagai tempat sarana para pengunjung untuk dapat duduk-duduk menghadap ke arah pantai. Pada rentang jarak tertentu, tiang-tiang lampu dipasang di atas tembok tersebut. Bukan hanya di siang hari, keindahan pantai pun tak kalah menarik dinikmati di malam  hari dengan kemeriahan lampu-lampu ini.

      
Salah satu lokasi wisata Pantai Ancol


Pantai Carnaval, Ancol

Tak jauh dari pemakaman, tibalah kami di Pantai Carnaval. Pantai ini memang cocok dipakai untuk kegiatan-kegiatan kumpul kelompok seperti outbond karena tidak akan terganggu oleh pengunjung lainnya. Kebanyakan wisatawan yang datang ke Ancol lebih memilih Pantai Festival yang lokasinya lebih dekat dengan pintu gerbang, lebih bangus view-nya, dan lebih bersih pantainya. Di Pantai Carnaval, butiran pasirnya berwarna coklat. Kala itu anginnya cukup kencang dan agak mendung karena sudah masuk musim hujan.

Sama seperti kawasan Pantai Festival, Pantai Carnaval pun memiliki spot yang beralaskan paving block dengan dominan warna orange-kecoklatan atau abu-abu. Beberapa pohon khas pantai seperti kelapa pun menghiasai area wisata ini. Beberapa kilometer ke arah timur dari Pantai Carnaval terdapat PLTU Tanjung Priok Power Plant dan bila diteruskan ke arah timurnya lagi terdapat Terminal Tanjung Priok dengan tujuan bis-bis ke berbagai kota lintas provinsi. Terminal bis ini masuk dalam kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, pelabuhan yang kegiatan utamanya sebagai akses kirim-masuk barang domestik maupun mancanegara sehingga tak heran kontainer-kontainer peti kemas berjejer menumpuk di sepanjang jalan menuju terminal.

View di Pantai Paling Ujung Wisata Ancol
Selama menikmati suasana pantai ini, ada hal yang membuat saya miris. Sampah-sampah bekas kemasan yang dibuang sembarangan oleh pengunjung tidak sedikit jumlahnya. Kurangnya kesadaran sebagian masyarakat dapat menurunkan nilai jual pariwisata  Indonesia. Padahal, urusan menjaga keindahan dan kebersihan itu bukan hanya tanggung jawab pihak terkait saja, namun warga pun ikut andil dimana pun berada. Semoga ke depannya, setiap individu bisa lebih sadar dan sayang pada lingkungan sekitar.


Acara outbond dimulai sekitar pukul 2 siang. Sebagai pembukaan, para trainer me-review materi yang sebelumnya diberikan di kantor. Setelah itu, sesi dilanjut dengan materi tambahan yang lebih bersifat motorik mengenai kerjasama tim berikut simulasi-simulasinya. Sebelumnya kami dibagi regu, masing-masing kelompok berjumlah 6 orang. Permainannya macam-macam yang intinya adalah kebersamaan, kekompakan, dan ketangkasan sekaligus mengasah otak.

Kerjasama Tim: Menyelesaikan Tugas dan Memecahkan Teka-teki

Setiap kelompok yang lebih tangkas atau lebih cepat di setiap permainannya diberi apresiasi satu bintang. Kelompok yang mengumpulkan paling banyak bintang itulah juaranya.
Hore... Dapat Bintang \(^^,)/
Permainan demi permainan pun terlewati. Kelompok kami menang sebagai juara dua. Seakan tak ingat waktu, hari pun sudah larut sore. Kami harus segera bergegas, takut-takut ketinggalan bis jemputan yang sudah menunggu di kantor. Waktunya pulang.

Begitulah sedikit cerita bersama teman-teman kantor di minggu-minggu pertama saya tinggal di Jakarta. I enjoy Jakarta with my new friends. Do you?


2 comments:

  1. Halo, blogger. saya putri dari VIVAlog. Kirimkan data pribadi kamu ke putri.megasari@viva.co.id dengan format:

    Nama:
    Email:
    No.Hp:
    Alamat:
    Judul Artikel+(link blog):
    Akun Twitter:

    Karena yang sudah submit akan di data.
    Terima kasih :)

    ReplyDelete
  2. Berbagi Kisah, Informasi dan Foto

    Tentang Indahnya INDONESIA

    www.jelajah-nesia.blogspot.com

    ReplyDelete