Thursday, 13 December 2012

Incident of Scholarship Interview via Skype



Tanggal 14 nop’12 masuk email dari seorang staf akademik salah satu program studi universitas di Austria, isinya interview invitation tentang aplikasi beasiswa yang saya ajukan di akhir September lalu melalui Program Techno dari Erasmus Mundus Action 2 (EM2). Karena cukup banyak program beasiswa yang saya apply, saya tak begitu ingat pernah kirim aplikasi ke Techno. Saya juga lupa jurusan/universitas apa yang saya pilih dalam aplikasi itu 'o_O. 
Salahnya, saya tidak me-list program-program beasiswa apa saja yang saya apply (ckckck..). Mencoba ingat-ingat lagi dan buka-buka file di laptop, karena sang hard disk sempat rusak, syukurlah masih ada berkas dokumennya di laptop. Masi bisa review kata-kata apa saja yang saya tulis dalam motivation letter jaga-jaga buat jawab pertanyaan nanti.

Interview Invitation

Isi invitation-nya itu menanyakan kesediaan saya untuk wawancara terkait aplikasi program beasiswa yang saya ajukan. Pihak sana memberi jadwal interview Jumat, 23 nop’12, jam 10 waktu Austria. Dia menanyakan pula akun Skype saya. Saya kira program Techno tidak ada wawancara. Terus saya coba googling dari beberapa blog ternyata Program Techno itu ada yang diwawancara dan ada yang tidak, mungkin tergantung jurusan/universitasnya.
Ada waktu seminggu untuk persiapan wawancara. Mungkin bagi beberapa orang latihan wawancara itu tidak perlu tapi bagi saya itu penting karena ini pertama kalinya buat saya lagi pula saya tidak sering berbicara bahasa Inggris jadi yah agak kaku-kaku gimana gitu kalau speaking makanya saya perlu latihan :D.

Cari bocoran di forum-forum beasiswa tentang pertanyaan lazim saat interview. Saya juga meminta kisi-kisi pertanyaan wawancara pada senior yang sudah pernah interview beasiswa. Umumnya yang ditanyakan adalah tentang latar belakang studi, alasan/motivasi apply beasiswa, dari mana tahu program beasiswanya, karir ke depannya, bagaimana program studi ini membantu karir yang ingin dicapai, kontribusi pada negara setelah selesai study. 

Berdasar jenis-jenis pertanyaannya saya mencoba membuat garis besar statement apa saja yang akan saya utarakan dan mengkonsepnya hingga saya bisa ucapkan dengan lancar dan di luar kepala (ini sebenarnya bukan hapalan, Nov :p). Dari email disebutkan bahwa wawancara akan berlangsung selama 10-15 menit berarti daftar pertanyaannya akan lebih sedikit dibandingkan wawancara langsung head to head yang biasanya bisa sampai 30 menit (cmiiw).

Hari-H pun tiba. Sebelum jam 10 waktu Austria (jam 4 sore waktu Indonesia), saya sudah siap di depan laptop, internet syukurnya lancar (saya pakai Speedy, punten bukan promosi cuma saya merasa terbantu saja menggunakan line internet rumah ini, udah mah murah unlimited yang benar-benar unlimited lagi :p).
Dari email sebelumnya diberitahukan bahwa saya setidaknya sudah siap-siap beberapa menit sebelumnya untuk menghindari masalah teknis. Jam 4 kurang 3 menit, staf akademik Austria memulai percakapan melalui text message, menanyakan kesiapan saya. Dengan PD saya jawab sudah. Baik, kita mulai dalam 5 menit lagi, katanya.

Dan seksi interview pun dimulai. Suara staf akademiknya itu terdengar seksi persis seperti namanya yang berinisial RS dan beraksen Austria (karena saya tahu dia orang Austria jadi ya saya bilang dialeknya Austria, padahal mah kagak tahu aksen Austria itu kek mana) dan cantik pula :p.
Saya pun membalas sapaan dia, tapi oh tapi dia tidak dapat mendengar apa yang saya bilang. Mike saya bermasalah. Dicoba berulang-ulang tetap saja suara saya tidak terdengar oleh Miss-nya.
Miss staff: "Hello, saya tidak mendengar suara Anda."
Waaaa ini gimana ini. Panik sich enggak tapi lemes-selemes-lemesnya. Kenapa ini mike saya ??? Padahal headset saya biasa digunakan untuk Skype-an di fesbuk itu baik-baik aja, tapi kenapa pas dipakai di aplikasi Skype-nya langsung tanpa integrasi di fesbuk tidak bisa.

Dibantu dengan chatting, saya tanya apa dia punya Yahoo Messenger? Yahoo tidak punya.
Punya Gmail? Syukurlah dia punya jadi mencoba menggunakan Gmail. Aslinya saya ga pernah coba video call lewat Gmail. Jadilah Gmail saya perlu di-set dulu video nya. Oke, makan waktu beberapa menit (masih dalam keadaan ngaderekdek yang artinya kurang lebih bergetar karena saking gugupnya). Dan ternyata masih, suara saya tidak terdengar.

Barulah saya menyadari bahwa headset yang saya pakai itu handsfree (-______-") walaupun ada mike-nya jadi mungkin tidak compatible untuk Skype. Atau mungkin karena keadaan laptop yang kurang mendukung. Jadi seharusnya menggunakan headset seperti seorang operator telepon atau pilot. Baiklah, mencoba tetap tenang. Akhirnya saya tanya lagi apa punya akun Facebook ? Dan ternyata punya. Terjadilah saling add friend dulu. Dan akhirnya bisa terdengar suara. Tapi kenapa video/gambarnya tidak muncul padahal lampu di webcam sudah menyala yang tandanya bahwa video sedang on. Karena saat itu pikiran tidak sedang jernih-jernihnya jadi tidak bisa mengutak-ngatik technical error nya dimana. Untungnya Miss cantik itu bilang tidak apa-apa tidak pakai video juga yang penting terdengar suara. Maka dimulailah percakapannya.

Gara-gara technical problems, greetings yang udah saya hafalkan dalam bahasa Deutsch hilang seketika. Semua menyimpang dari konsep jawaban yang saya persiapkan sebelumnya. Ada-ada saja memang. Rangkuman wawancaranya kurang lebih seperti ini:
- Coba ceritakan apa yang kamu kerjakan sekarang?
Saya tanpa mikir-mikir langsung menjawab dengan memperkenalkan diri, saya lulusan ini jurusan ini, skripsinya tentang ini, setelah lulus kerja di ini, bla bla bla.
Sepertinya jawaban saya tidak kena pada pertanyaannya, tapi kata-kata itu keluar sendiri.
- Mengapa kamu memilih program ini. Darimana tahu program ini?
Saya  tertarik pada bidang ini karena relevan dengan latar belakang pendidikan saya. Saya ingin memperdalam kajian ini. Saya tahu program ini dari blog seseorang dan melihat ada jurusan yang menjadi minat saya. bla bla bla...
- Dalam motlet kamu ada pengalaman tentang ini, ini, dan ini. Apa hubungannya satu sama lain dan mana yang kamu prioritaskan?
Bla..bla..bla.. 

Setelah sesi tanya jawab, Miss staff sedikit memberikan penjelasan mengenai aplikasi yang saya apply. Sebagai penutup, Miss staff memberikan kesempatan saya bertanya.
Nah pada sesi inilah, saya juga tidak tahu mengapa saya tiba-tiba menanyakan hal yang tidak penting dan mungkin bisa menurunkan poin penilaian. Rencananya saya mau bertanya kapan hasil seleksi lolos beasiswanya diumumkan? tapi yang keluar malah pertanyaan yang tidak penting -_-'.

Selesai lah wawancara itu, terakhir sebagai kata-kata penutup saya bilang sorry dorry morry tadi ada technical problems. Untungnya Miss staff nya ramah dan malah bilang "ini masih mending tidak ada apa-apanya, saya kemarin mewawancarai orang sama juga menghadapi kendala teknis tapi lebih parah jadi never mind". Ucap Miss staff mencoba menghiburku. Percakapan pun selesai. Tarik napas karena merasa kacau sekali setelahnya. Merasa tidak maksimal juga dalam memberikan statement.

Daripada manyun saya tiduran sejenak menurunkan kadar si mumet. Beberapa menit kemudian kembali ke depan layar laptop, coba ceki-ceki email. Eh ada email dari DAAD program Sustainable Water Management baru masuk 3-5 menit yang lalu. Segera dibaca, isinya memberi tahu bahwa aplikasi saya baru saja tiba di Bonn dan dokumen saya dinyatakan lengkap sehingga segera masuk proses penilaian.
Email dari DAAD

Email dari DAAD ini cukup menghibur saya pasca insiden wawancara itu. Tapi tetap saja saya digantung hingga hasil seleksi resmi diumumkan. Sambil nunggu masa-masa digantung ini nampaknya saya perlu ke BEC membeli headset kalau-kalau sewaktu-waktu diundang interview lagi ;p

 Wish me luck ^^

2 comments:

  1. Hai Nova. Grogi tapi tetep pede kan? Good luck ya. Wish you all the best!

    ReplyDelete
  2. Hai Mbak Eka, ya agak2 grogi mbak, hehee. Makasi ya mbak :)

    ReplyDelete